Sesar Lembang Terbagi Tiga Segmen, Ini Penjelasan Badan Geologi
Sesar Lembang yang membentang sepanjang 29 kilometer di utara Kota Bandung ternyata tidak seragam. Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkapkan bahwa sesar ini terbagi menjadi tiga segmen berbeda.
Perbedaan karakteristik geologi, aktivitas, dan potensi gempa pada tiap segmen menuntut strategi mitigasi yang lebih spesifik dan terukur.
Penyelidik Bumi Ahli Madya Badan Geologi, Sukahar Eka Adi Saputra, menjelaskan bahwa segmentasi Sesar Lembang memiliki hubungan erat dengan sistem vulkanik di Bandung.
“Secara keseluruhan, Sesar Lembang merupakan sesar aktif dengan segmentasi yang jelas dan memiliki hubungan erat dengan sistem vulkanik di wilayah Bandung,” ujarnya.
Arah tegasan dominan membentang dari timur laut hingga barat daya. Potensi gempa maksimum diperkirakan mencapai magnitudo 6,5 hingga 7 apabila seluruh segmen bergerak bersamaan.
Laju geser sesar tersebut berkisar 1,95 hingga 3,45 milimeter per tahun, dengan periode ulang gempa 170 hingga 670 tahun, berdasarkan paleoseismologi.
“Terdapat indikasi gempa besar pernah terjadi pada abad ke-15,” kata Sukahar.
Data ini memperkuat perlunya mitigasi yang disesuaikan dengan karakter masing-masing segmen.
Sesar Lembang dibagi menjadi tiga segmen, yaitu segmen barat, tengah, dan timur, yang masing-masing memiliki karakteristik unik:
Segmen Barat
Segmen barat membentang dari Sungai Cimeta hingga Ngamprah dan Cibaligo. Penyelidik Bumi Ahli Muda Badan Geologi, Hidayat, menjelaskan bahwa pada segmen ini terlihat pola kekar pada lava, kontak lava-breksi, serta manifestasi mata air panas.
“Dari penampang barat terlihat offset yang jelas dan konsisten dengan distribusi gempa mikro. Hal ini menunjukkan adanya variasi karakter struktur yang masih aktif secara geologis,” jelasnya.
Peneliti menggunakan alat Ground Penetrating Radar (GPR) untuk melihat lapisan tanah di bawah permukaan dan menemukan lapisan yang tampak bergeser (offset).
Survei magnetik menunjukkan anomali magnetik rendah di bagian utara sesar, menandakan perbedaan kondisi batuan. Analisis First Horizontal Derivative (FHD) dan Second Vertical Derivative (SVD) digunakan untuk melihat arah dan pola struktur batuan, sementara metode 3D Euler Deconvolution memperkirakan kedalaman sumber anomali.
Survei gravitasi menunjukkan anomali Bouguer offset dan anomali densitas tinggi yang konsisten dengan keberadaan sesar bawah permukaan.
“Segmen barat memiliki karakter yang relatif stabil di permukaan tetapi jelas aktif di bawah tanah,” tambah Hidayat.
Segmen Tengah
Segmen tengah membentang dari Maribaya hingga Gunung Batu. Survei GPR menemukan offset yang menunjukkan aktivitas sesar muda, meskipun reflektor relatif tegak hingga kedalaman 2.000 meter.
“Meski tegak, segmen tengah tetap aktif. Survei geofisika menunjukkan reflektor yang dipotong sesar, indikasi aktivitas relatif muda,” tegas Hidayat.
Karakter tegak ini berbeda dengan segmen barat yang lebih offset, sehingga potensi pelepasan energi gempa tetap ada.
Segmen Timur
Segmen timur meliputi Gunung Batu hingga Tebing Keraton. Terdapat fault scarp (tebing curam akibat pergeseran patahan), pergeseran Sungai Cikapundung, dan cermin sesar.
“Segmen timur menunjukkan bukti sesar yang relatif muda, termasuk cermin sesar, menunjukkan sejarah aktivitas signifikan,” tambahnya.
Wilayah ini dipengaruhi aktivitas vulkanik Gunung Sunda Purba, Gunung Tangkuban Parahu, dan Gunung Burangrang, yang menambah kompleksitas risiko gempa lokal.
Segmentasi ini membantu menyusun zonasi risiko yang lebih presisi, sehingga bangunan vital sebaiknya dijauhkan dari jalur sesar, dan daerah dengan guncangan tinggi wajib menerapkan standar konstruksi tahan gempa.
Hidayat menambahkan, survei geofisika dangkal dan dalam memungkinkan pemetaan geometri sesar dan aktivitas kegempaan secara mendalam.
“Integrasi seluruh metode menunjukkan Sesar Lembang memiliki variasi karakter dari barat hingga timur dan masih menunjukkan indikasi aktivitas berdasarkan data geofisika yang diperoleh,” katanya.
Mitigasi Berbasis Data Historis
Penyelidik Bumi Utama Badan Geologi, Supartoyo, menekankan pentingnya mitigasi berbasis data historis untuk mencegah kerusakan akibat gempa bumi.
“Sejak 2000 hingga 2025, kejadian gempa bumi merusak berkisar lima hingga 41 per tahun, dengan tertinggi pada 2025. Pada 2026 tercatat enam kejadian gempa merusak.” jelasnya.
Gempa Yogyakarta 2006 menyebabkan kerugian Rp29,2 triliun, Aceh 2004 sekitar Rp13,4 triliun, Palu 2018 Rp8,5 triliun, dan Cianjur 2022 Rp4 triliun.
Badan Geologi menekankan bahwa gempa berpotensi merusak umumnya memiliki intensitas IV–V MMI, sementara gempa Cianjur 2022 mencapai VIII MMI.
“Dampak akan lebih besar jika bangunan tidak tahan gempa,” tambah Supartoyo.
Bahaya gempa terbagi tiga: guncangan permukaan, sesar permukaan, dan bahaya ikutan seperti penurunan tanah dan likuifaksi, seperti yang terjadi pada gempa Palu 2018.
Mitigasi harus dilakukan sesuai Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, melalui pendekatan struktural dan non-struktural.
“Gempa tidak bisa dicegah, tapi risikonya dapat ditekan jika kesiapsiagaan dan standar konstruksi diterapkan secara konsisten,” ujarnya.
Sukahar menegaskan bahwa memahami karakter setiap segmen Sesar Lembang adalah kunci mitigasi efektif.
Supartoyo menerangkan bahwa dengan segmentasi sesar, pihak terkait memiliki peta risiko yang lebih tajam untuk melindungi Bandung Raya. Kesiapsiagaan dan implementasi standar bangunan harus konsisten agar risiko korban jiwa dan kerugian ekonomi dapat diminimalkan.
Analisis segmentasi, integrasi data geofisika, serta pemahaman geologi lokal menjadi dasar strategi mitigasi yang tepat sasaran.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow