Kim Jong Un Buka Peluang Hubungan dengan AS, Tolak Tawaran Korsel
Pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un, menyatakan bahwa negaranya bersedia menjalin hubungan dengan Amerika Serikat. Syaratnya, Washington harus menghentikan kebijakan permusuhannya terhadap Pyongyang. Namun, Kim menolak tawaran dialog dari Seoul dan menyebutnya sebagai tindakan "menipu".
Pernyataan ini disampaikan Kim Jong Un saat sesi peninjauan kebijakan pada Kongres Kesembilan Partai Buruh Korea yang berkuasa. Sesi tersebut berlangsung pada Jumat-Sabtu pekan lalu dan berakhir sehari sebelumnya, menurut Kantor Berita Pusat Korea (KCNA).
Menurut KCNA, Kim Jong Un mengatakan, "Kami tidak punya alasan untuk tidak menjalin hubungan dengan Amerika Serikat jika mereka menghormati status negara kami saat ini, sebagaimana didefinisikan dalam konstitusi Korea Utara, dan menghentikan kebijakan permusuhannya terhadap Korea Utara."
Kim menambahkan bahwa masa depan hubungan Korea Utara-AS sepenuhnya bergantung pada sikap AS. Ia menegaskan, pihaknya akan mengambil tanggapan "yang sesuai" jika Washington mempertahankan sikap konfrontatif.
"Baik itu hidup berdampingan secara damai atau konfrontasi abadi, kami siap untuk keduanya, dan pilihannya bukan di tangan kami," tandas Kim Jong Un.
Di sisi lain, Kim Jong Un mengecam isyarat rekonsiliasi dari Seoul di bawah Pemerintahan Lee Jae Myung sebagai "menipu". Ia memperingatkan bahwa rezim tersebut akan secara permanen mengecualikan Korea Selatan dari "kategori orang yang sama".
Pada tahun 2024, Kim menggambarkan hubungan antar-Korea sebagai hubungan permusuhan dan sejak itu mempertahankan kebijakan yang bermusuhan terhadap Seoul.
"Kami tidak akan berurusan dengan Korea Selatan, entitas yang paling bermusuhan," tegasnya, menambahkan sikap ini akan dikonfirmasi dalam kebijakan partai yang berkuasa.
Kim menuduh Pemerintahan Korea Selatan sebelumnya "berupaya menggulingkan rezim Korea Utara". Ia juga menilai bahwa "sikap rekonsiliasi yang diupayakan oleh pemerintah Seoul saat ini di permukaan adalah tipu daya yang ceroboh."
Pengembangan Senjata Nuklir
Dalam kesempatan yang sama, Kim Jong Un menegaskan kembali status Korut sebagai negara bersenjata nuklir. Ia berjanji untuk lebih meningkatkan pengembangan senjata.
"Merupakan tekad yang teguh dan tak tergoyahkan dari partai kami untuk lebih memperkuat kekuatan nuklir negara dan sepenuhnya menjalankan status negara bersenjata nuklir," ungkap Kim.
Kim juga menyebut senjata nuklir negaranya sebagai "jaminan dan alat pengaman" bagi keamanan dan kepentingannya. "Status kami sebagai negara bersenjata nuklir memainkan peran penting dalam mencegah potensi ancaman musuh dan menjaga stabilitas regional," tandasnya.
Ia pun berjanji untuk melanjutkan produksi senjata nuklir Korut. Selain itu, Kim mengisyaratkan pengembangan rudal balistik antarbenua (ICBM) yang dapat diangkut melalui laut, dengan mengatakan lima tahun dari sekarang, "kekuatan pertahanan negara akan mencapai tingkat yang tidak dapat ditangani oleh musuh."
"Kami memiliki rencana setiap tahun untuk memperkuat kekuatan nuklir negara dan akan fokus pada peningkatan jumlah senjata nuklir, perluasan kemampuan operasional nuklir, dan perluasan ruang lingkup penggunaannya," kata Kim Jong Un saat menguraikan rencana pembangunan pertahanan lima tahunan.
Ia menambahkan, ICBM yang diluncurkan dari darat dan bawah laut, drone yang dilengkapi kecerdasan buatan, satelit pengawasan, dan senjata strategis dan listrik yang mampu menargetkan satelit musuh dan sistem komando selama masa perang sebagai hal-hal yang akan dikejar dalam rencana lima tahun tersebut.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow