Nasib Dua Tentara Korea Utara di Ukraina Terkatung-katung di Tengah Kebuntuan Diplomatik

Smallest Font
Largest Font

Dua tentara asal Korea Utara kini berada dalam situasi pelik setelah lebih dari setahun ditangkap oleh pasukan Ukraina di wilayah Kursk, Rusia. Meski keduanya telah menyatakan keinginan untuk mencari suaka ke Korea Selatan, proses relokasi mereka hingga kini belum menemui titik terang akibat hambatan diplomatik yang kompleks.

Keputusan untuk menyerah merupakan pelanggaran berat dalam doktrin militer Pyongyang. Kim Eujin, seorang pembelot yang melarikan diri pada 1990-an, mengungkapkan bahwa tentara Korea Utara diperintahkan untuk melakukan tindakan bunuh diri daripada membiarkan diri mereka ditangkap di medan perang. Jika kembali ke tanah air, para tawanan ini tidak hanya menghadapi risiko penyiksaan dan kerja paksa, tetapi keluarga mereka juga terancam hukuman berdasarkan prinsip tanggung jawab kolektif tiga generasi.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melalui Pelapor Khusus hak asasi manusia telah memberikan peringatan resmi agar Ukraina mematuhi protokol internasional. Ukraina diminta untuk tidak memulangkan tawanan ke wilayah yang berisiko tinggi terhadap tindakan penyiksaan. Salah satu tentara mengungkapkan kekhawatirannya dalam wawancara dengan media Hankook Ilbo, mengakui bahwa keselamatan nyawanya terancam jika ia dipulangkan ke Korea Utara.

Secara konstitusional, pemerintah Korea Selatan memiliki dasar hukum untuk menerima mereka karena Pasal 3 Konstitusi Korea Selatan menganggap warga Korea Utara sebagai warga negaranya. Namun, aktivis dan pengamat menilai pemerintahan Presiden Lee Jae Myung cenderung pasif dan terkesan menghindari ketegangan langsung dengan Kim Jong Un.

Faktor-Faktor Penghambat Relokasi Tentara Korea Utara
Aspek PenghambatDetail Permasalahan
GeopolitikSensitivitas hubungan diplomatik antara Seoul, Kyiv, Moskow, dan Pyongyang.
KonstitusionalAdanya Pasal 4 Konstitusi Korea Selatan yang menekankan hubungan damai dengan Utara.
Keamanan KeluargaAncaman hukuman bagi keluarga tentara di Korea Utara jika mereka membelot ke Selatan.
Protokol PerangKetidakjelasan mekanisme hukum internasional dalam menyerahkan tawanan ke negara ketiga.

Peter Oh dari Free Korean Association menengarai bahwa keterlambatan ini dipicu oleh kekhawatiran Korea Selatan akan implikasi keamanan nasional yang lebih luas. Sementara itu, laporan dari Korea Institute for National Unification pada 9 Februari menegaskan bahwa komunikasi tingkat tinggi secara langsung antara pemimpin Korea Selatan dan Ukraina adalah satu-satunya jalan untuk memecahkan kebuntuan ini.

Tanpa kesepakatan politik yang konkret, posisi Ukraina menjadi sulit dan secara teknis mereka bisa saja berkewajiban menyerahkan tawanan tersebut kembali ke pihak Rusia. Hingga saat ini, pihak Pyongyang belum mengeluarkan pernyataan resmi, meskipun spekulasi mengenai pembicaraan di balik layar terus berkembang di kalangan pengamat internasional.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed