Kebudayaan Harus Jadi Daya Hidup Bangsa
Kebudayaan Indonesia harus menjadi fondasi utama dalam pembangunan dan modal untuk diplomasi serta ekonomi kreatif, bukan sekadar menjadi slogan atau pelengkap acara. Hal ini ditegaskan oleh Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, saat menjadi pembicara kunci dalam Sarasehan Kebudayaan Nusantara di Cibinong, Bogor, pada Minggu, 1 Maret.
Fadli Zon menyoroti kekayaan warisan budaya Indonesia yang besar namun belum dikelola secara optimal. Terdapat 2.727 Warisan Budaya Takbenda (WBTb) yang tercatat, dan diperkirakan puluhan ribu lainnya masih dalam proses registrasi dan verifikasi. "Budaya kita bukan hanya kaya, tetapi juga tua," kata Fadli, sambil menyinggung tentang luasnya sebaran cagar budaya dari Sabang sampai Merauke.
Penemuan lukisan purba tertua di dunia berusia 67.800 tahun di Muna, Sulawesi Tenggara, yang dipublikasikan dalam jurnal Nature pada 22 Januari 2026, semakin memperkuat posisi Indonesia sebagai negara dengan peradaban yang panjang. Menurut Fadli, temuan ini mendukung argumen bahwa Indonesia lebih dari sekadar nation state, melainkan civilizational state.
Fadli menekankan bahwa budaya harus relevan untuk masa kini dan masa depan. Negara-negara maju tidak hanya melindungi budayanya, tetapi juga menjadikannya kekuatan strategis melalui cultural and creative industry (CCI) dan ekonomi berbasis kekayaan intelektual. Budaya dapat menjadi soft power yang meningkatkan posisi Indonesia di dunia.
Wakil Gubernur Kalimantan Timur, Seno Aji, menyatakan bahwa Kaltim menjadikan budaya sebagai pemersatu dalam visi “Kaltim Sukses Menuju Generasi Emas”. Ia menyinggung jejak Kerajaan Kutai abad ke-4 melalui Prasasti Yupa di Muara Kaman, serta 56 warisan budaya Kaltim yang telah ditetapkan oleh Kementerian Kebudayaan, termasuk pengakuan terhadap kuliner.
Sekda Jawa Barat, Herman Suryatman, menyoroti dukungan Kementerian Kebudayaan, termasuk dalam memfasilitasi naskah Sang Hyang Siksa Kandang Karesian yang ditetapkan sebagai Memory of the World UNESCO pada April tahun lalu. Jawa Barat fokus pada penguatan karakter generasi muda berbasis nilai leluhur—konsep Pancawaluya (cager, bager, bener, pinter, singer)—serta pelestarian lingkungan lewat pengendalian alih fungsi lahan.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow