Industri Padat Karya Jadi Penyelamat Lapangan Kerja?
Industri padat karya, dengan karakteristiknya yang menyerap banyak tenaga kerja, dinilai krusial dalam kondisi ekonomi sulit. Antonius Joenoes Supit, Ketua Umum Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo), menyatakan bahwa sektor seperti tekstil, alas kaki, furnitur, makanan dan minuman, kerajinan, hingga konstruksi, berpotensi menjadi solusi bagi banyak pekerja.
Sektor industri ini mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar, bahkan tanpa memerlukan latar belakang pendidikan tinggi. Antonius menekankan pentingnya penyediaan lapangan kerja untuk mengatasi kemiskinan, dan industri-industri ini dapat memainkan peran kunci.
Perundingan dagang antara Indonesia dan Amerika Serikat melalui Agreement on Reciprocal Trade (ART) memiliki korelasi signifikan dengan industri garmen dan alas kaki. Ekspor yang besar ke Amerika Serikat dapat menjaga keberlangsungan produksi pabrik.
Menurut Anton, industri alas kaki tidak hanya padat karya, tetapi juga padat modal, sehingga memerlukan perhatian lebih dari pemerintah karena kemampuannya menyerap tenaga kerja yang besar.
Anton menyampaikan harapannya agar pemerintah dapat menghilangkan hambatan usaha yang ada, meskipun bantuan lain tetap diterima dengan baik. Hal ini disampaikan saat kunjungan ke kantor VOI di Tanah Abang, Jakarta Pusat, pada 20 Februari 2026.
Fokus utama industri sepatu, garmen, dan padat karya lainnya adalah menciptakan lapangan kerja sebanyak mungkin. Struktur ketenagakerjaan Indonesia didominasi pekerja informal (60%), berbeda dengan pekerja formal yang memiliki ikatan kerja, gaji bulanan, dan jaminan sosial. Mayoritas pekerja juga lulusan SD dan SMP.
Akses pasar juga penting selain produksi. Perubahan kebijakan perdagangan oleh Donald Trump sempat mengganggu ekspor. Amerika Serikat merupakan pasar penting bagi sektor sepatu dan garmen dengan volume sekitar 10% dari total ekspor Indonesia atau sekitar Rp200 miliar. Jika ditambah dengan alas kaki, angka tersebut bisa mencapai 30%. Perundingan tarif dengan Amerika Serikat menjadi krusial untuk penyediaan lapangan kerja.
Pemerintah Indonesia dan Amerika Serikat telah menandatangani ART. Anton memberikan apresiasi atas negosiasi tarif yang telah dilakukan, yang berhasil menurunkan tarif tambahan dari 32% menjadi 19%, dan kini dinegosiasikan menjadi 0% untuk garmen.
Namun, Anton menekankan bahwa keberhasilan ini belum tentu menjamin pemanfaatan yang optimal. Industri sepatu, selain padat karya, juga padat modal, dan saat ini hanya perusahaan yang teruji yang mampu bertahan. Potensi pasar dunia untuk sepatu mencapai hampir 4 miliar dolar, dan Vietnam mampu mengekspor lebih banyak dari Indonesia.
Anton melihat bahwa pengusaha sepatu sudah siap menghadapi persaingan, namun masalah non-tariff barrier di dalam negeri masih menjadi keluhan, bahkan oleh Trump sendiri. Oleh karena itu, perbaikan iklim investasi di dalam negeri, terutama kepastian hukum dan kebijakan yang stabil, menjadi kunci.
Anton menyoroti masalah Amdal yang berbelit-belit sebagai contoh hambatan usaha. Transformasi tenaga kerja dari informal menjadi formal juga memerlukan perhatian pemerintah, dengan investasi yang mendukung penyerapan tenaga kerja. Anton juga meragukan data pengangguran yang dirilis BPS, dan menekankan perlunya data yang akurat untuk perencanaan investasi yang efektif.
Manufaktur Sebagai Prime Mover
Anton mencontohkan negara lain yang sukses menyerap banyak lapangan kerja melalui manufaktur. Ia menyayangkan penurunan kontribusi manufaktur terhadap PDB Indonesia dari 27-30% di era Orde Baru menjadi hanya 18% saat ini. Anton menekankan perlunya telaah mendalam terhadap perubahan investasi dan tahapan perkembangan sektor ekonomi, mulai dari pertanian, manufaktur, hingga jasa.
Anton juga menekankan pentingnya daya saing global. Perusahaan sepatu Indonesia mampu bersaing, meskipun volume ekspornya menurun dibandingkan Vietnam. Peran pemerintah sangat penting dalam mendukung masa depan pengusaha.
Anton menyoroti isu perburuhan yang sering dipolitisasi, yang dapat merugikan pekerja sendiri dan mendorong mekanisasi. Ia juga mengkritik kebiasaan ribut soal UMR/UMP setiap tahun, dan menekankan bahwa upah minimum seharusnya menjadi safety net. Kesejahteraan buruh dapat dicapai melalui negosiasi dengan pengusaha, dengan bantuan pemerintah jika diperlukan.
Anton mengingatkan bahwa mogok adalah hak buruh, tetapi tidak mau mogok juga merupakan hak. Ia meminta kepastian hukum dari aparat penegak hukum.
Anton menegaskan bahwa yang terpenting bagi pengusaha adalah tidak adanya hambatan dalam menjalankan usaha. Ia juga menyoroti momentum bagus saat ini, di mana tarif Indonesia lebih kompetitif di Amerika Serikat dibandingkan China, sehingga Indonesia berpotensi menjadi tujuan relokasi industri.
Anton berpendapat bahwa relokasi pabrik dari Jawa Barat dan Banten ke Jawa Tengah, bahkan ke luar negeri, perlu disikapi dengan bijak. Jika Indonesia membutuhkan mereka karena banyak tenaga kerja yang terserap, maka relokasi tersebut perlu didukung, kecuali ada penggantinya.
Anton menilai bahwa UMP di Indonesia saat ini sudah hampir sama dengan Vietnam. Ia mendorong penerapan skala upah seperti PNS, dengan perbedaan upah berdasarkan masa kerja. Serikat pekerja juga perlu aktif membantu anggotanya memperjuangkan hak-haknya jika UMP tidak dilaksanakan.
Anton menekankan bahwa pemerintah harus tegas dan tidak memihak dalam menyelesaikan masalah perburuhan. Kewajiban normatif pengusaha harus ditegakkan, namun tuntutan buruh yang tidak masuk akal juga tidak boleh dibela.
Anton berbagi pengalamannya bertemu dengan dewan pengupahan di Jepang, di mana kenaikan upah merupakan keniscayaan jika ekonomi membaik. Ia mengajak untuk mengutamakan perundingan untuk menyelamatkan perusahaan, dan pemerintah harus mampu membela kepentingan yang harus diselamatkan.
Anton yakin setiap perusahaan memiliki mekanisme untuk memberikan apresiasi kepada karyawan yang rajin dan berprestasi. Ia juga menyinggung wacana vokasi seperti di Jerman, yang belum terealisasi.
Anton berharap agar pengusaha dapat membantu mengatasi iklim investasi, dan Presiden meminta Mensesneg untuk menampung keluhan pengusaha. Anton yakin bahwa sinergi antara presiden dan pengusaha akan membangun ekonomi Indonesia. Ia juga mengusulkan pelembagaan penyelesaian masalah agar lebih efektif.
Anton berharap agar industri pendukung juga berkembang seiring dengan industri utama, dan diberikan perlindungan. Ia juga meminta dukungan bagi industri yang membantu misi pemerintah menangani kemiskinan. Anton mengutip kata-kata Pang Lay Kim, ayah dari Mari Pangestu, tentang perlunya mengubah paradigma dari "bangsa siaga" menjadi "bangsa niaga".
Anton juga menekankan perlunya membedakan antara impor untuk produksi dan konsumsi, serta menjunjung tinggi tata kelola pemerintahan yang baik.
Traveling Tak Perlu Mahal
Traveling adalah aktivitas yang dilakoni Anton Joenoes Supit di luar kesibukan rutinnya. Baginya, berjalan-jalan dan mengunjungi berbagai tempat baru adalah bentuk rasa syukur dan menikmati keindahan alam. "Bagi saya, traveling tak perlu mahal; menikmati keindahan alam ciptaan Tuhan sudah cukup. Setelah traveling, kita bisa fresh kembali," katanya.
Tempat favorit Anton untuk jalan-jalan adalah Eropa dan Jepang. "Saya biasanya ke Amsterdam dulu, soalnya banyak keluarga yang tinggal di sana. Setelah itu baru menjelajah ke berbagai negara Eropa. Saya biasa menyetir sendiri kalau jalan-jalan, soalnya saya sudah punya lisensi untuk menyetir internasional," kata Anton yang amat terbantu dengan peta digital yang bisa diakses lewat telepon genggam.
Ada satu kegiatan yang tak banyak dilakukan orang, tapi dia lakukan saat di Wina, Austria. Anton suka menziarahi makam para komponis lagu klasik di Pemakaman Pusat Wina (Zentralfriedhof), khususnya di bagian Musiker-Ehrenhain (Area Kehormatan Musisi).
"Di sana dimakamkan Ludwig van Beethoven, Franz Schubert, Johannes Brahms, Johann Strauss I & II (Ayah dan Anak), dan lain-lain. Pokoknya semua kumpul di sana. Cuma Mozart yang tidak dimakamkan di sana," terangnya.
Kalau Mozart, lanjut Anton, dia di pemakaman lain. "Kenapa dia berbeda sendiri? Informasi yang saya dapatkan, waktu dia meninggal dalam keadaan susah dan ada penyakit berbahaya. Akhirnya dia dikuburkan di tempatnya meninggal di hari itu juga. Nah, malam harinya hujan deras, gundukan tanah makamnya rata dengan tanah. Karena orang tidak bisa menemukan lokasi persisnya dimakamkan, akhirnya dikira-kira saja; di salah satu titik dibuatkan makam selayaknya, ada patung lilin dan malaikat," paparnya.
Wisata Alam dan Kuliner Khas
Keindahan alam di Eropa dengan pedesaan yang asri membuat Anton makin kagum dengan Sang Pencipta. "Indah sekali alamnya; ada pegunungan dengan salju abadi dan pedesaan asri serta hijau. Jadi tak perlu ke tempat yang mewah, itu saja bagi saya sudah bersyukur," katanya.
Tapi untuk traveling, tidak selamanya menyetir. Ada kalanya Anton mengombinasikan perjalanannya antara pesawat terbang dan mobil. "Dari Belanda saya naik pesawat ke Italia, lalu di sana sewa mobil dan menjelajah ke kota-kota yang ada di Italia. Begitu juga saat ke Spanyol, landing di Madrid atau Barcelona, lalu sewa mobil," ujarnya.
Satu pengalaman saat singgah di Napoli; di kota itu ada satu penjual pizza yang terkenal. Anton bersemangat untuk mencicipi kelezatan hidangan khas itu, meskipun antreannya panjang bukan main. "Karena saya bukan ahli kuliner, obsesi untuk mendapatkan dan mencicipi pizza itu membuat saya bersemangat. Antre lama juga dijalani saja, hehehe," kisahnya.
Hal yang sama dia lakukan di tempat lain seperti saat ke Semarang. "Semarang kan terkenal dengan lumpianya. Saya juga terobsesi mencari lumpia terenak di sana meski ramai dan lagi-lagi harus antre. Begitulah petualangan untuk mencicipi suatu hidangan," kata Anton yang sudah mengurangi asupan makanan meski tidak pantang.
Rencana Perjalanan yang Matang
Anton termasuk orang yang tertib dan punya rencana yang matang saat akan traveling. "Misalnya saya dari Bandung; pagi sebelum sampai ke tempat tujuan, saya akan mampir dulu ke Purwakarta makan sate maranggi. Setelah kenyang, baru melanjutkan perjalanan. Siangnya mampir di Cirebon untuk makan siang empal gentong dan makanan khas lainnya," katanya.
Perjalanan dari satu titik ke titik berikutnya bagi Anton adalah journey yang akan terkenang di masa yang akan datang. "Buat orang mungkin itu biasa ya. Tapi bagi saya itu sesuatu yang harus dinikmati dan disyukuri. Terima kasih pada Tuhan diberikan kebahagiaan meski tidak harus yang mewah atau mahal," katanya.
Di sini dia bisa melihat keadilan Tuhan pada umat-Nya. "Jadi Tuhan itu adil pada umat-Nya. Orang yang apa adanya pun bisa bahagia tanpa harus berlibur dengan fasilitas mewah. Makan di pinggir jalan, antre membeli makanan menjadi sesuatu yang unik. Dan saat kita bisa mendapatkan makanan setelah melewati antrean yang panjang, rasanya senang sekali," paparnya.
Dengan diwawancarai ini, Anton juga merasa bahagia. "Soalnya saya ada motivasi, mudah-mudahan apa yang dibincangkan bisa bermanfaat untuk orang lain. Mengubah keadaan menjadi lebih baik, begitu harapannya," ujarnya.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow