Chandra Asri Pacific Perluas Bisnis Jadi Penyedia Solusi Terintegrasi
PT Chandra Asri Pacific Tbk (IDX: TPIA) tengah bertransformasi menjadi perusahaan penyedia solusi energi, kimia, dan infrastruktur terkemuka di Asia Tenggara. Langkah ini diambil sebagai respons terhadap perubahan industri global dan penguatan rantai pasok regional.
Peluang di pasar domestik masih terbuka lebar. Saat ini, sekitar 50% kebutuhan petrokimia nasional dipenuhi melalui impor. Pertumbuhan permintaan di Indonesia juga lebih tinggi dari rata-rata global. Hal ini mendorong TPIA untuk memperkuat produksi, melakukan substitusi impor, serta menciptakan nilai tambah dan lapangan kerja di dalam negeri.
TPIA memperluas bisnisnya dengan membangun ekosistem terintegrasi yang mencakup sektor kimia, energi, dan infrastruktur. Model bisnis ini dirancang untuk memperkokoh struktur bisnis, meningkatkan integrasi vertikal dan horizontal, serta menciptakan efisiensi biaya.
Menurut Direktur Sumber Daya Manusia & Corporate Affairs Chandra Asri Group, Suryandi, pengembangan ekosistem menjadi fondasi utama strategi pertumbuhan perusahaan.
"Muaranya adalah bagaimana kami bisa membangun sebuah ekosistem yang saling menguatkan di bidang energi, kimia dan infrastruktur, sebagai satu kesatuan yang dapat diandalkan dan siap bersaing di level Asia Tenggara. Dengan rekam jejak pertumbuhan yang konsisten, kami telah berkembang dari akar lokal menjadi perusahaan petrokimia terbesar keempat di Asia Tenggara," kata Suryandi dalam diskusi media, 24 Februari 2026.
Dari sisi kapasitas produksi, TPIA memproyeksikan peningkatan signifikan, dari 4,2 juta ton di tahun 2024 menjadi lebih dari 21 juta ton pada tahun 2027. Hal ini seiring dengan ekspansi aset dan integrasi regional.
Untuk mendukung transformasi bisnis ke tingkat regional, TPIA mengintegrasikan aset di Indonesia dan Singapura. Tujuannya adalah mengoptimalkan feedstock, produksi, utilitas, dan logistik secara menyeluruh, sekaligus memperluas akses pasar.
Direktur Legal, External Affairs & Circular Economy Chandra Asri Group, Edi Riva’i, menjelaskan bahwa pengembangan jejaring ekosistem lintas negara dilakukan untuk memastikan efisiensi rantai nilai dari hulu hingga hilir.
"Integrasi ini memungkinkan alur produksi yang lebih efektif dan efisien, sehingga pertumbuhan bisnis dapat berjalan berkelanjutan. Di saat yang sama, ekspansi ini juga membuka peluang kerja baru dan mendorong kompetensi talenta nasional," jelas Edi.
TPIA juga mengembangkan proyek strategis Pabrik Chlor Alkali & Ethylene Dichloride (CA-EDC) untuk memperkuat pasokan bahan kimia domestik dan mendukung substitusi impor. Proyek ini telah mencapai progres konstruksi lebih dari 50% dan ditargetkan memproduksi 400 KTA kaustik soda dan 500 KTA EDC.
Proyek CA-EDC diproyeksikan dapat menciptakan nilai ekonomi hingga sekitar Rp10 triliun per tahun melalui substitusi impor kaustik soda dan potensi ekspor EDC ke pasar Asia Tenggara. Proyek ini juga diperkirakan dapat menyerap sekitar 3.250 tenaga kerja selama fase konstruksi dan operasional.
Perusahaan juga membentuk Chandra Asri Sentral Solusi (CASS), entitas shared service yang berfungsi sebagai pusat layanan back office terintegrasi. Pengembangan CASS diproyeksikan dapat menyerap sekitar 200 tenaga kerja seiring peningkatan kapasitas dan cakupan layanan.
Senior Market Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, M Nafan Aji Gusta Utama, mengapresiasi transformasi TPIA yang memperluas model bisnis menjadi penyedia solusi energi, kimia, dan infrastruktur terintegrasi.
Menurut Nafan, transformasi ini direspons positif oleh pasar dan berdampak pada kinerja perseroan. TPIA mencatat rebound signifikan pada 2025 dengan laba bersih yang melonjak drastis.
Secara umum, TPIA memiliki kapitalisasi pasar sekitar Rp618,6 triliun, dengan rasio price earning (PER) di kisaran 28–29 kali, lebih tinggi dibanding rata-rata industri.
“Selain itu, dengan transformasi juga, TPIA jadi semakin gencar melakukan akuisisi strategis, seperti Aster Chemicals and Energy Pte Ltd, lalu juga jaringan SPBU Esso milik ExxonMobil di Singapura, dan banyak lagi yang lain. Ini tentu sangat positif dari sudut pandang pelaku pasar,” ujar Nafan.
Nafan mengingatkan bahwa TPIA perlu memitigasi sejumlah tantangan, seperti margin keuntungan yang dipengaruhi fluktuasi harga minyak mentah dan kondisi oversupply industri petrokimia dari China. Ia juga menyoroti valuasi premium saham TPIA yang membuatnya rentan terkoreksi.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow