Perundingan Nuklir Iran-AS di Jenewa Tunjukkan Kemajuan
Menteri Luar Negeri Oman mengindikasikan adanya perkembangan positif dalam perundingan antara Iran dan Amerika Serikat. Hal ini disampaikan setelah kedua negara menyelesaikan putaran ketiga perundingan tidak langsung di Jenewa, Swiss.
Negosiasi yang dimediasi oleh Oman ini bertujuan untuk menyelesaikan perselisihan nuklir yang berkepanjangan. Selain itu, perundingan ini diharapkan dapat mencegah potensi serangan baru dari AS, di tengah peningkatan aktivitas militer Washington di Timur Tengah.
Badr al-Busaidi, Menteri Luar Negeri Oman, menyampaikan melalui media sosial X bahwa kedua belah pihak berencana melanjutkan negosiasi setelah berkonsultasi di negara masing-masing. Diskusi teknis dijadwalkan berlangsung di Wina pada minggu berikutnya.
"Saya berterima kasih kepada semua pihak terkait atas upaya mereka: para negosiator, IAEA, dan tuan rumah kami, pemerintah Swiss," kata al-Busaidi, seperti dikutip dari Anadolu.
Optimisme ini muncul setelah pertemuan tidak langsung antara Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, dengan utusan AS, Steve Witkoff, dan Jared Kushner. Pembicaraan di Jenewa dibagi menjadi dua sesi, pagi dan sore.
"Kami telah menyelesaikan hari ini setelah kemajuan signifikan dalam negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran," kata Menlu al-Busaidi.
Usai sesi pagi, Menlu al-Busaidi menyebut kedua pihak bertukar "ide-ide kreatif dan positif." Meski demikian, seorang pejabat senior Iran menyatakan bahwa masih ada beberapa perbedaan yang perlu dipersempit.
Perundingan tersebut menjadi yang terlama hingga saat ini, berlangsung lebih dari lima jam di sebuah gedung milik Kedutaan Besar Oman. Durasi ini melebihi putaran pertama di Muscat dan putaran kedua di Jenewa pada 17 Februari.
Sesi pertama dihentikan sekitar pukul 13:30 waktu setempat setelah kedua pihak bertukar catatan melalui Menteri Luar Negeri Oman dan kepala pengawas nuklir PBB, Rafael Grossi, selama lebih dari tiga jam. Sesi kedua dimulai sekitar pukul 17:45 dan berakhir pukul 19:30 waktu setempat.
Sebelumnya, mediator Oman mendorong kedua pihak untuk melanjutkan negosiasi pada hari Jumat, namun hal tersebut tidak terealisasi.
Delegasi Iran dipimpin oleh Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi, sementara delegasi Amerika dipimpin oleh Utusan Khusus AS Steve Witkoff dan Jared Kushner. Grossi dari Badan Energi Atom Internasional (IAEA) turut hadir sebagai pengamat teknis.
Menlu Araghchi menggambarkan pembicaraan itu sebagai salah satu yang paling serius antara Iran dan AS. Kepada televisi pemerintah Iran, dia mengatakan: "Kami mencapai kesepakatan mengenai beberapa isu, dan ada perbedaan mengenai beberapa isu lainnya."
Araghchi menambahkan bahwa putaran negosiasi berikutnya akan segera berlangsung, kurang dari seminggu lagi, dan Iran telah menyampaikan tuntutan mereka terkait pencabutan sanksi. Belum ada komentar dari tim negosiasi AS mengenai hasil pembicaraan tersebut.
Kemajuan substansial dalam kesepakatan antara Washington dan Teheran dapat mengurangi potensi serangan yang diancamkan oleh Presiden AS Donald Trump terhadap Iran, yang dikhawatirkan dapat memicu perang yang lebih luas.
Diskusi mengenai sengketa program nuklir Iran ini muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran akan konflik di Timur Tengah. Presiden Trump telah berulang kali mengancam tindakan jika tidak ada kesepakatan, dan militer AS telah mengerahkan pasukannya di perairan dekat Iran.
Seorang pejabat senior Iran sebelumnya mengatakan bahwa Tehran dan Washington dapat mencapai kerangka kerja kesepakatan jika Washington memisahkan "isu nuklir dan non-nuklir." Pemerintahan Presiden Trump bersikeras bahwa program rudal Iran dan isu lainnya harus menjadi bagian dari negosiasi.
Washington meyakini Iran ingin membangun bom nuklir dan menuntut penghentian semua pengayaan uranium. Iran membantah tuduhan tersebut dan menyatakan akan menunjukkan fleksibilitas dalam pembicaraan. Reuters melaporkan bahwa Tehran menawarkan konsesi baru sebagai imbalan atas pencabutan sanksi dan pengakuan haknya untuk memperkaya uranium. Amerika Serikat juga ingin memperluas pembicaraan ke isu-isu lain, termasuk persenjataan rudal balistik Iran dan dukungannya terhadap kelompok bersenjata di kawasan tersebut.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow