Memilih Sepatu Lari: Intensitas Latihan Jadi Faktor Utama
Intensitas latihan menjadi pertimbangan utama saat memilih sepatu lari, bukan sekadar model atau warna. Kebutuhan pelari yang rutin berlatih 3 hingga 6 kali seminggu berbeda dengan pelari kasual yang hanya berlari di akhir pekan.
Bantalan responsif, bobot ringan, dan daya tahan optimal menjadi semakin penting seiring dengan meningkatnya frekuensi serta variasi latihan, mulai dari easy run, interval, hingga long run.
Dalam persiapan lomba, sesi long run yang mencakup 25–30 persen dari total jarak tempuh mingguan membutuhkan sepatu yang nyaman dan stabil, bahkan saat kaki mulai lelah. Transisi pijakan yang halus serta bantalan yang mampu mengembalikan energi penting untuk menjaga performa.
Salah satu produsen perlengkapan olahraga menjawab kebutuhan ini dengan pembaruan pada lini sepatu lari populernya, seri 1080v15. Model New Balance ini menggunakan teknologi midsole terbaru berbasis infusi nitrogen superkritikal untuk menghasilkan struktur bantalan yang lebih kokoh serta energy return yang lebih baik.
Sepatu ini memiliki drop 6 mm yang moderat, membantu transisi dari midfoot ke forefoot terasa lebih stabil dan terkontrol. Bobotnya juga lebih ringan, dengan estimasi selisih 37 gram dibandingkan generasi sebelumnya.
Menurut Martina Harianda Mutis, Sports Brand Marketing General Manager MAP Active, pelari urban memiliki kebutuhan spesifik karena intensitas latihan yang konsisten. "Pelari urban yang sudah konsisten bisa lari 3–6 kali seminggu. Akhirnya, sepatunya cepat rusak, daya responsifnya berkurang, dan bikin pelari cepat capek. Padahal yang dibutuhkan pelari urban ini adalah sepatu yang awet untuk jangka panjang dan bisa mengimbangi intensitas mereka," ujarnya.
Pengalaman para pelari komunitas juga menyoroti pentingnya memilih sepatu sesuai program latihan. Jessica dari USS Running, yang berlari rata-rata 40–50 kilometer per minggu, menekankan bahwa setiap sesi membutuhkan kenyamanan yang berbeda. "Setiap sesi memiliki intensitas dan kondisi yang berbeda, sehingga menggunakan sepatu yang nyaman sangat berpengaruh terhadap performa sekaligus kenyamanan saat berlari," katanya.
Jessica menambahkan bahwa memilih jenis sepatu yang tepat sesuai intensitas latihan dapat membantu meningkatkan performa. "Sepatu ini terasa seimbang, empuk namun tidak terlalu mushy (terasa terlalu lembek). Saya pakai untuk easy run 5–10 km hingga long run sejauh 15 km, dan performanya tetap terasa konsisten. Transisinya pun terasa halus, terutama saat berlari dengan pace easy hingga moderate," tutur Jessica.
Irene dari Degen Run Club juga menyampaikan hal serupa, bahwa memilih sepatu lari yang tepat berarti memahami kebutuhan tubuh dan pola latihan sendiri. Jangan sampai sepatu justru menghambat progres karena tidak sesuai dengan intensitas latihan. Konsistensi adalah kunci dalam dunia lari, dan sepatu yang tepat adalah fondasinya.
“Bantalan sepatunya terasa nyaman dan membantu membuat lari terasa lebih ringan,” pungkas Irene.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow