Vale Indonesia Jual Perdana Nikel dari IGP Pomalaa
PT Vale Indonesia Tbk (PT Vale) telah berhasil mencatatkan penjualan perdana bijih nikel yang berasal dari Indonesia Growth Project (IGP) Pomalaa.
Penjualan ini menandai transisi penting proyek dari fase konstruksi ke fase operasional penghasil pendapatan. Hal ini sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global mineral kritis.
Menurut Director and Chief Project Officer PT Vale Indonesia Tbk, Muhammad Asril, penjualan perdana ini merupakan langkah strategis dalam proses de-risking proyek dan validasi sistem produksi. Selain itu, hal ini juga dapat memperkuat fundamental pertumbuhan jangka panjang perseroan.
Asril menjelaskan dalam keterangannya kepada media pada Senin, 2 Maret, bahwa nikel adalah komponen penting dalam baterai lithium-ion, terutama untuk katoda berkadar nikel tinggi yang digunakan pada kendaraan listrik (EV) dan sistem penyimpanan energi. Permintaan nikel diperkirakan akan terus meningkat seiring dengan percepatan elektrifikasi global dan transisi energi.
Dengan nilai investasi terintegrasi sekitar Rp74,44 triliun atau 4,43 miliar dolar AS, IGP Pomalaa menjadi salah satu proyek strategis. Proyek ini diharapkan dapat memperkuat fondasi industri nikel nasional dan meningkatkan daya saing Indonesia di pasar global.
Penjualan perdana ini dimungkinkan berkat aktivasi area oresell di Pit PB5 dan Pit PB1. Area ini dirancang untuk mengoptimalkan arus material dan menjaga stabilitas produksi.
Kedua pit tersebut memiliki kapasitas penampungan hingga 4 juta wet metric ton (Mwmt) bijih limonit, memberikan fleksibilitas inventori dan menjamin keberlanjutan suplai menuju fasilitas pengolahan di Pomalaa.
Muhammad Asril menambahkan, peresmian area oresell di Pit PB5 dan PB1 merupakan langkah strategis dalam menjaga ritme produksi dan memastikan distribusi material yang optimal. Dukungan infrastruktur yang terus dipercepat, memastikan pencapaian target IGP Pomalaa selaras dengan prinsip operational excellence dan praktik pertambangan berkelanjutan.
IGP Pomalaa menargetkan produksi sebesar 300.000 ton limonit per bulan, atau sekitar 9.677 ton per hari pada Maret 2026. Strategi ramp-up ini dilakukan secara disiplin untuk memastikan keberlanjutan operasional serta optimalisasi kapasitas produksi.
Dengan kapasitas penyimpanan 4 Mwmt dan target produksi bulanan, proyek ini memiliki inventory buffer yang memadai untuk menjaga konsistensi suplai sekaligus mengurangi risiko gangguan operasional.
Hingga Januari 2026, progres konstruksi keseluruhan IGP Pomalaa telah mencapai 65,76 persen. Sementara itu, pembangunan Main Haul Road (MHR) to stockpile telah mencapai 40 persen. Jalur ini menjadi tulang punggung distribusi material dari area tambang menuju fasilitas pengolahan dan pelabuhan, yang pada akhirnya akan meningkatkan produktivitas hauling dan menurunkan potensi logistics bottleneck.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow