Tarif Impor AS Ancam Industri Panel Surya Indonesia

Smallest Font
Largest Font

Kebijakan pemerintah Amerika Serikat yang menaikkan tarif impor sel dan panel surya asal Indonesia hingga 104,38 persen dinilai menjadi pukulan bagi industri energi terbarukan nasional. Kenaikan tarif ini berpotensi menggerus daya saing produk Indonesia di pasar AS.

Bambang Soesatyo, Anggota DPR RI sekaligus Ketua MPR RI ke-15 dan Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Politik, Pertahanan dan Keamanan KADIN Indonesia, menyatakan bahwa tarif tersebut akan langsung memengaruhi daya saing produk Indonesia.

"Tarif sebesar itu jelas bukan angka kecil. Dengan bea masuk di atas 100 persen, harga panel surya Indonesia di pasar Amerika otomatis melonjak dua kali lipat lebih mahal dari sebelumnya. Itu membuat daya saing kita terpukul keras dan berpotensi memangkas volume ekspor secara signifikan," kata Bamsoet di Jakarta, Sabtu (28/2/26).

Bamsoet menjelaskan bahwa kebijakan ini masuk dalam penetapan bea masuk anti subsidi terhadap Indonesia, India, dan Laos. Pasar AS merupakan pasar yang besar, dengan total impor panel surya mencapai sekitar US$ 4,5 miliar pada tahun 2025, sebagian besar dari negara-negara Asia.

Menurut Bamsoet, Indonesia termasuk eksportir dengan tren yang meningkat dalam tiga tahun terakhir. Nilai ekspor produk photovoltaic Indonesia pada tahun 2024 bahkan menembus ratusan juta dolar AS, dengan AS sebagai salah satu tujuan utama. Namun, tarif 104,38 persen membuat posisi Indonesia terancam karena harga produk menjadi lebih mahal dibandingkan produksi domestik AS atau negara lain yang tidak terkena kebijakan serupa.

Bamsoet mendorong pemerintah untuk melakukan diplomasi perdagangan secara cepat, baik melalui jalur bilateral maupun multilateral. "Jika terdapat indikasi pelanggaran aturan perdagangan internasional, opsi membawa kasus ini ke mekanisme sengketa di WTO juga harus dipertimbangkan secara serius," ujarnya.

Selain diplomasi dan hukum internasional, diversifikasi pasar ekspor perlu dipercepat agar ketergantungan pada satu pasar tidak menjadi titik lemah. Peluang terbuka di Uni Eropa, Timur Tengah, Asia Selatan, Afrika, hingga Amerika Latin. Pada saat yang sama, pasar domestik perlu diperkuat melalui percepatan proyek PLTS serta kebijakan TKDN yang realistis dan adaptif.

Bamsoet menekankan pentingnya penguatan industri dalam negeri. Dukungan pembiayaan, insentif fiskal, peningkatan kualitas SDM, serta standardisasi produk berstandar internasional harus diperkuat agar industri panel surya nasional tetap kokoh menghadapi tekanan eksternal.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed