Promosi Event Daerah Kaltara Dinilai Belum Optimal
Anggota Komisi VII DPR, Rahmawati, menilai promosi event daerah di Kalimantan Utara (Kaltara) belum digarap secara maksimal. Akibatnya, dampak positif terhadap sektor pariwisata juga belum optimal.
Hal tersebut diungkapkannya saat acara Sosialisasi Strategi Promosi dan Pemasaran Event Daerah di Tanjung Selor, pada Senin, 2 Maret.
Rahmawati menyatakan bahwa permasalahan utama bukan terletak pada kurangnya kegiatan. Namun, lebih kepada cara promosi yang masih terbatas dan belum melibatkan partisipasi masyarakat secara luas.
Menurutnya, perlu adanya perubahan pola pikir bahwa pariwisata bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah daerah. Pariwisata, lanjutnya, dapat menjadi sebuah gerakan bersama yang melibatkan seluruh masyarakat.
"Jadi Kita harus ubah cara pandang, pariwisata ini bisa kita jual melalui promosi. Bukan hanya pemerintah tapi masyarakat juga bisa terlibat," tegasnya.
Rahmawati juga mendorong Kementerian Pariwisata untuk menciptakan ruang edukasi atau "sekolah pikir" bagi masyarakat. Tujuannya, agar masyarakat dapat memahami potensi ekonomi dari sektor pariwisata, termasuk cara memanfaatkan teknologi digital untuk promosi.
"Medsos (media sosial) kini menjadi instrumen promosi paling efektif dan murah. Konten kreatif yang menampilkan kegiatan daerah mampu menjangkau audiens lebih luas tanpa bergantung sepenuhnya pada promosi formal pemerintah," ujarnya.
Ia mencontohkan beberapa event lokal seperti lomba dayung pada peringatan hari jadi Bulungan dan lomba speed boat di Tarakan. Event-event tersebut dinilai mampu menarik partisipasi besar dari masyarakat, termasuk ratusan nelayan.
“Event seperti itu sebenarnya sudah kuat. Tinggal bagaimana dikemas dan dipromosikan secara konsisten agar dikenal lebih luas,” kata Rahmawati.
Menurutnya, Kaltara memiliki potensi wisata pesisir dan sungai yang unik dibandingkan daerah lain. Meskipun akses laut dan kondisi perairan menjadi tantangan, kekayaan ekosistem alam tetap menjadi daya tarik yang dapat dipromosikan sebagai identitas wisata daerah.
Selain itu, potensi alam dan sektor budaya juga belum dimanfaatkan secara optimal. Berbagai tarian tradisional dari suku Dayak, Tidung, hingga Bulungan dinilai memiliki nilai jual yang tinggi jika dikemas sebagai atraksi wisata rutin.
"Seperti di Bali yang mampu menjadikan budaya lokal sebagai magnet utama wisatawan melalui pertunjukan seni yang konsisten dipromosikan secara global. Orang luar negeri datang karena tahu apa yang ingin mereka lihat. Kita juga punya potensi yang sama,” kata dia.
Rahmawati berharap kedepannya, promosi event daerah tidak lagi bersifat insidental, melainkan dirancang sebagai strategi berkelanjutan.
"Selain melibatkan pemerintah, pelaku usaha, komunitas, dan masyarakat ikut andil agar event lokal mampu menembus pasar nasional hingga internasional," tuturnya.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow