Perang Sarung di Bulan Ramadan Jadi Sorotan KPAI

Smallest Font
Largest Font

Tradisi perang sarung yang sering terjadi di bulan Ramadan awalnya merupakan permainan spontan anak-anak setelah sahur. Namun, kegiatan ini berubah menjadi tindakan berbahaya karena sarung sering dimodifikasi dengan benda keras, memicu bentrokan antar remaja.

Beberapa kasus bahkan menyebabkan luka berat hingga korban jiwa, menimbulkan kekhawatiran di masyarakat.

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menilai bahwa maraknya perang sarung bukan hanya kenakalan biasa. Wakil Ketua KPAI, Jasra Putra, menegaskan bahwa fenomena ini mencerminkan masalah yang lebih kompleks.

Jasra Putra menyatakan, "Fenomena 'perang sarung' yang marak, bahkan hingga merenggut nyawa dan menyebabkan gegar otak bukanlah sekadar kenakalan remaja biasa. Ini adalah sinyal darurat dari krisis ruang bermain, lemahnya pengawasan, dan gagalnya lingkungan memfasilitasi energi anak-anak kita."

Menurutnya, perang sarung sering terjadi di permukiman padat penduduk yang kekurangan ruang terbuka. Perubahan fungsi lahan juga mempersempit ruang gerak anak-anak.

Ia menjelaskan bahwa ketika lahan luas berubah menjadi pabrik atau area parkir, ruang gerak anak menjadi sempit. Akibatnya, saat Ramadan tiba dan anak-anak memiliki alasan untuk keluar rumah pada malam hari, mereka mencari ruang seluas mungkin untuk berekspresi.

Negara sebenarnya telah mengatur pemenuhan hak anak atas waktu luang melalui kebijakan Kabupaten/Kota Layak Anak (KLA), khususnya pada Klaster 4 tentang Pemenuhan Hak Anak. Namun, implementasinya di daerah masih memerlukan dukungan anggaran dan perencanaan lingkungan yang terstruktur.

Aparat kepolisian di berbagai daerah telah mengambil langkah pencegahan. Di Surabaya, Jawa Timur, polisi mengamankan 16 anak yang diduga akan terlibat perang sarung. Di Garut, Jawa Barat, aparat membubarkan sekelompok warga yang terlibat aksi serupa.

Pengawasan juga diperketat di Ponorogo melalui razia di alun-alun untuk mencegah perang sarung dan balap liar. Sementara itu, di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, polisi menggelar patroli subuh untuk mengantisipasi perang sarung serta penggunaan petasan.

Rangkaian kejadian ini menunjukkan bahwa perang sarung bukan lagi sekadar tradisi musiman, tetapi masalah sosial yang memerlukan perhatian bersama agar Ramadan tetap menjadi momen pembinaan karakter dan keamanan bagi anak-anak.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow