Gus Dur Bapak Pluralisme: Mengapa Gelar Itu Begitu Melekat?

Smallest Font
Largest Font

Abdurrahman Wahid atau yang akrab disapa Gus Dur, adalah tokoh yang sangat dihormati di Indonesia. Lebih dari sekadar mantan presiden, ia dikenang sebagai pejuang pluralisme sejati. Tapi, mengapa gelar "Bapak Pluralisme" begitu melekat padanya? Mari kita telusuri dua alasan utama yang mendasari pengakuan ini.

Setidaknya ada dua alasan mengapa Gus Dur begitu lekat dengan julukan Bapak Pluralisme. Kedua alasan ini saling terkait dan membentuk landasan pemikiran serta tindakan Gus Dur dalam membela keberagaman.

1. Pemikiran Inklusif dan Penghargaan Terhadap Perbedaan

Gus Dur memiliki pemikiran yang sangat inklusif. Ia meyakini bahwa Indonesia adalah negara yang kaya akan keberagaman, dan perbedaan adalah kekuatan, bukan ancaman. Baginya, semua warga negara memiliki hak yang sama, tanpa memandang suku, agama, ras, maupun golongan. Ia seringkali mengatakan, "Tidak penting apa agamamu, sukumu, rasmu, yang penting adalah apa yang bisa kamu lakukan untuk bangsa ini."

Gus Dur berdialog dengan tokoh lintas agama dengan ekspresi hangat
Gus Dur selalu membuka diri untuk berdialog dengan tokoh-tokoh dari berbagai agama dan kepercayaan.

Pemikiran ini bukan sekadar retorika. Gus Dur secara konsisten menunjukkan penghargaan terhadap perbedaan dalam setiap tindakannya. Ia membela hak-hak minoritas, seperti hak beribadah bagi penganut agama Konghucu, yang sebelumnya dilarang pada masa Orde Baru. Ia juga lantang menentang segala bentuk diskriminasi dan intoleransi.

2. Tindakan Nyata dalam Membela Keberagaman

Gus Dur tidak hanya berbicara tentang pluralisme, tetapi juga mewujudkannya dalam tindakan nyata. Salah satu contohnya adalah keputusannya mencabut Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 14 Tahun 1967 tentang Agama, Kepercayaan, dan Adat Istiadat Cina. Inpres ini membatasi kegiatan budaya dan agama masyarakat Tionghoa di Indonesia. Pencabutan Inpres ini merupakan langkah penting dalam memulihkan hak-hak masyarakat Tionghoa dan mengakui keberadaan mereka sebagai bagian integral dari bangsa Indonesia.

Gus Dur menghadiri perayaan Imlek bersama masyarakat Tionghoa
Kehadiran Gus Dur dalam perayaan Imlek menunjukkan dukungannya terhadap keberagaman budaya di Indonesia.

Selain itu, Gus Dur juga aktif menjalin dialog dengan tokoh-tokoh agama dan masyarakat dari berbagai latar belakang. Ia seringkali mengadakan pertemuan dan diskusi untuk mencari solusi atas berbagai masalah yang dihadapi bangsa, dengan mengedepankan semangat persatuan dan kesatuan.

Penting diperhatikan: Meskipun Gus Dur sangat menjunjung tinggi pluralisme, beliau juga menekankan pentingnya menjaga persatuan dan kesatuan bangsa. Pluralisme yang diperjuangkannya bukanlah pluralisme yang tanpa batas, melainkan pluralisme yang berlandaskan pada nilai-nilai Pancasila dan UUD 1945.

Gus Dur berpidato tentang pentingnya Pancasila sebagai landasan negara
Gus Dur meyakini bahwa Pancasila adalah ideologi yang paling tepat untuk menjaga persatuan dan kesatuan Indonesia yang beragam.

Di Era Sekarang, Relevankah Pemikiran Gus Dur?

Sangat relevan. Di tengah maraknya intoleransi dan radikalisme, pemikiran Gus Dur tentang pluralisme justru semakin dibutuhkan. Kita perlu meneladani semangatnya dalam menghargai perbedaan, membela hak-hak minoritas, dan menjalin dialog antar umat beragama. Pemikiran Gus Dur adalah warisan berharga yang harus kita jaga dan lestarikan agar Indonesia tetap menjadi negara yang damai, toleran, dan inklusif.

Dengan memahami alasan mengapa Gus Dur disebut Bapak Pluralisme, kita dapat lebih menghargai jasa-jasanya dan terinspirasi untuk melanjutkan perjuangannya dalam merawat keberagaman Indonesia. Warisan pemikirannya akan terus relevan dalam menghadapi tantangan zaman dan menjaga persatuan bangsa.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow